Bismillah36’s Blog

Just another WordPress.com weblog

MENEGASKAN KEMBALI PENDIDIKAN MULTI KULTURAL

Ketika budaya membentuk watak manusia yang justru mengarah pada kontradiksi kebudayaan, maka pendidikan harus menempatkan dirinya sebagai kekuatan counter-hegemony terhadap dominasi dalam era kapitalisme (neoliberalisme: pasar bebas) sekarang ini. Lembaga pendidikan tidak memiliki banyak waktu untuk mengajari anak didik (pelajar, mahasiswa, masyarakat) tentang cara membangun kebudayaan yang memberdayakan. Sekolah, kampus dan lembaga pendidikan lainnya seakan hanya mengajari menghafal nama-nama dan merek-merek produk dan bahkan sekedar memastikan bahwa mereka bisa berhitung agar mengerti untung-rugi. Mereka tidak pernah diajarkan cara melihat kehidupan secara dialektis dan mengetahui bagaimana sejarah berjalan. Pendidikan hanya mengikuti arus kapitalis yang di dominasi oleh kepentingan untung-rugi. Peserta didik diarahkan pada satu makna budaya, tunggal, linear dan homogen. Lembaga pendidikan hanya mengikuti arus kebudayaan, tidak memiliki kontrol terhadap perkembangan budaya yang membentuk kehidupan yang tingkat kontradiksinya semakin kita rasakan akhir-akhir ini.                 Kapitalisme dewasa ini di dukung oleh media-media – yang menurut Peter Saunders (1915: 79) mampu menstimulasi kebutuhan-kebutuhan semu (false need) akan barang-barang dan jasa material yang berlebih. Kebutuhan-kebutuhan yang terus diperbaharui melalui citra-citra oleh industri periklanan dan industri budaya massa menutupi kebutuhan riil (real need) yang lebih mendasar dengan mekanisme sublimasi psikologis yang di hasilkannya. Kemudian fenomena terbaru disepakatinya ACFTA (Asian China Free Trade Agreement) yang artinya Negara cina – penguasa ekonomi dunia – akan dengan bebas memperjual belikan hasil industrinya di Indonesia, ini artinya ancaman baru bagi dunia pendidikan di Indonesia. Kenapa tidak? Produk-produk cina yang cendrung instant dan dengan harga yang relative terjangkau, sementara produk dalam negeri yang masih cendrung tradisional dan mahal. Kebutuhan, tujuan, cita-rasa dan idiologi massa masyarakat di bawah hegemoni pasar bebas (kapitalisme lanjut) ini hanya bisa dilihat sebagai hasilhasil dari sebuah mesin industri raksasa yang mampu menciptakan masyarakat dalam satu dimensi makna,individu-individu yang lahir adalah apa yang disebut Harbert Marcuse manusia satu dimensi (one dimensional man). Rekayasa psikologis yang diciptakan tentu saja benar-benar menghujam kesadaran massa, bahkan mampu mengendap dalam alam bawah sadarnya yang mengendalikan pikiran, perasan dan pada akhirnya tingkah lakuny. Semua energi libidinal dari massa di desain agar tidak muncul suatu psikologi ketidak puasan massa yang mengarah pada perlawanan terhadap system. Maka dari itu untuk menciptakan pendidikan yang konstruktif serta solutif di dalam menjawab serangan-serangan budaya yang mulai menyerap di dalam aliran darah dan jiwa kita saa ini, kita perlu tegaskan dan suarakan dengan lantang pendidikan multicultural, yang menjunjung tinggi nilai-nilai local(local widom) yang mulai terhimpit oleh lipatan-lipatan dan tumpukan-tumpukan budaya kapitalis. Oleh : Heliyanto, 08

Juni 1, 2010 - Posted by | artikel

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: