Bismillah36’s Blog

Just another WordPress.com weblog

PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM

PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM

Istilah pengembangan menunjukan pada suatu kegiatan menghasilkan suatu alat atau cara yang baru, di mana selama kegiatan tersebut penilaian dan penyempurnaan terhadap alat atau cara terus dilakukan. Bila setelah mengalami penyempurnaan – penyempurnaan akhirnya alat atau cara tersebut dipandang cukup mantap untuk digunakan seterusnya, maka berakhirlah kegiatan pengembangan tersebut.
Pengertian perkembangan di atas, berlaku pula dalam bidang kurikulum. Kegiatan pengembangan kurikulum mencakup penyusunan kurikulum itu sendiri, pelaksanaan di sekolah-sekolah, yang disertai dengan penilaian yang sangat intensif, dan pemyempurnaan-penyempurnaan yang dilakukan terhadap komponen-komponen tertentu dari kurikulum tersebut atas dasar hasil penelitian. Bila kurikulum itu sudah dianggap cukup mantap, setelah mengalami penilaian, penyempurnaan, maka berakhirlah tugas pengembangan kurikulum tersebut untuk kemudian dilanjutkan dengan tugas pembinaan. Hal ini berlaku pula untuk setiap komponen kurikulum, misalnya pengembangan metode mengajar, pengembangan alat pelajaran, dan sebagainya.
Banyak ahli yang merumuskan pengertian pengembangan kurikulum, menurut Miller dan Seler (1985:3) pengembangan kurikulum adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dimulai dari menentukan orientasi kurikulum, yakni kebijakan-kebijakan yang umum. Misalnya arah dan tujuan pendidikan, pandangan tentang hakekat kurikulum dan lainnya. Sementara itu Proses pengembangan kurikulum menurut Sagala (2000:232) ialah kebutuhan untuk menspesifikasi peranan-peranan lulusan menggambarkan kemampuan dan keterampilan yang harus dilaksanakan dalam bidang tertentu.
Berdasarkan orientasi itu, selanjutnya pendidik mengembangkan kurikulum menjadi pedoman pembelajaran, diimplementasikan dalam proses pembelajaran agar peserta didik memperoleh pengalaman belajar, dan dievaluasi yang hasilnya kemudian dijadikan bahan dalam menentukan orientasi, demikian seterusnya dalam bentuk siklus. Seorang pengembang dalam pengembangan kurikulum, biasanya menggunakan beberapa prinsip yang dipegangnya sebagai acuan agar kurikulum yang dihasilkan memenuhi harapan peserta didik, lembaga pendidikan (sekolah), orang tua, masyarakat pengguna, dan tentunya pemegang kebijakan pendidikan (pemerintah). Hamalik menyebutkan beberapa prinsip pengembangan kurikulum yang perlu diperhatikan , yaitu (1) objektivitas ; (2) keterpaduan ; (3) manfaat ; (4) efisiensi dan efektivitas ; (5) kesesuaian ; (6) keseimbangan ; (7) kemudahan ; (8) berkesinambungan ; (9) dan pembakuan
Dalam pengembangan kurikulum tentunya di perlukan suatu prinsip-prinsip dasar, dimana prinsip ini sangat dibutuhkan oleh para pengembang .
Prinsip-Prinsip Dalam Pengembangan Kurikulum
Terdapat banyak prinsip yang mungkin digunakan dalam pengembangan kurikulum. Macam-macam prinsip ini bisa dibedakan mejadi dua kategori yaitu pinsip umum dan prinsip khusus. Prinsip umum biasanya digunakan hampir dalam setiap pengembangan kurikulum di manapun. Di samping itu prinsip umum ini merujuk pada prinsip yang harus diperhatikan untuk dimiliki oleh kurikulum ssebagai totalitas dari gabungan komponen-komponen yang membangunnya.
Prinsip khusus artinya prinsip yang hanya berlaku di tempat tertentu dari situasi tertentu. Prinsip ini juga merujuk pada prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengembangan komponen-komponen kurikulum secara tersendiri, misalnya prinsip yang digunakan untuk mengembangkan komponen tujuan, prinsip untuk mengembangkan komponen isi kurikulum, dan prinsip-prinsip untuk mengembangkan komponen-komponen kurikulum yang lainnya. Dimana prinsip pengembangan satu komponen dengan komponen yang lainnya akan berbeda. Terdapat beberapa istilah lainnya yang menunjuk pada apa yang dimaksud dengan prinsip, misalnya axioms (oliva), criteria ( Mc Neil dan Zais), basic consideration (Saylor et al. ) dan principle (Tyler). Uraian tentang macam-macam prinsip pengembangan Kurikulum dalam tulisan merujuk pada penjelasan dalam tulisan Sukmadinata (2000), Olivia (1992), dan Tayler (1975).

Sekarang marilah kita membahas tentang PRINSIP UMUM, yang di mana prinsip ini di bagi menjadi beberapa Prinsip, yaitu :
I. Prinsip Relevansi.
II. Prinsip Fleksibilitas.
III. Prinsip Kontinuitas.
IV. Prinsip Praktis atau Efisiensi.
V. Prinsip Efektivitas.

I. PRINSIP RELEVANSI
Secara umum, istilah relevansi pendidikan dapat diartikan sebagai kesesuaian atau keserasian pendidikan dengan tuntutan kehidupan. Dengan kata lain, pendidikan dipandang relevan bila hasil yang diperoleh dari pendidikan tersebut berguna atau fungsional bagi kehidupan.
Masalah relevansi pendidikan dengan kehidupan dapat kita tinjau sekurang-kurangnya dari tiga segi, yaitu : pertama, relevansi pendidikan dengan lingkungan hidup murid, kedua, relevansi pendidikan dengan perkembangan kehidupan sekarang dan masa yang akan datang, dan ketiga, relevansi pendidikan dengan tuntutan dalam dunia pekerjaan.

1. Relevansi Pendidikan Dengan Lingkungan Hidup Murid
Dalam menetapkan bahan pendidikan yang akan dipelajari murid, hendaknya dipertimbangkan sejauh mana bahan tersebut sesuai dengan kehidupan nyata yang ada di sekitar murid.
Adalah kurang tepat misalnya, bila untuk sekolah-sekolah di desa disediakan bahan bacaan yang banyak melukiskan kehidupan di kota seperti kemacetan lalu lintas, dan gedung-gedung yang tinggi dan sebagainya.
2. Relevansi Dengan Perkembangan Kehidupan Masa Sekarang dan Mendatang.
Dalam menetapkan bahan pendidikan, di samping mempertimbangkan lingkungan hidup murid. Perlu diperhatikan pula perkembangan yang terjadi dalam kehidupan di masa sekarang maupun di masa yang akan datang.
Suatu alat atau cara banyak digunakan oleh orang-orang pada waktu lampau, mungkin sudah ditinggalkan orang-orang pada masa sekarang. Sebagai contoh, kalau dulu radio tabung banyak dipakai orang, sekarang orang lebih banyak menggunakan radio transistor, dan pada masa yang akan datang mungkin radio tabung sudah tidak dipakai lagi.
Hubungannya dengan pendidikan adalah bahwa pelajaran-pelajaran yang tidak sesuai dengan kurikulum yang sedang diterapkan, sebaiknya tidak usah dipakai lagi, misalnya materi tentang G30 S, yang sidah tidak diajarkan lagi di bangku SD.
3. Relevansi Dengan Tuntutan Dalam Dunia Pekerjaan.
Di samping relevansi dari segi isi pendidikan, tidak kalah pentingnya juga adalah relevansi dari segi kegiatan belajar. Kurangnya relevansi dari segi kegiatan belajar ini sering mengakibatkan sukarnya lulusan dalam menghadapi tuntutan dari dunia pekerjaan. Sebagai contoh, dapat dibayangkan bagaimana seorang lulusan SMK dapat mengendalikan mesin dalam pekerjaannya, bila pada waktu di sekolah ia belum pernah melihat dan melakukan kegiatan-kegiatan dengan mesin yang konkrit.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa relevansi pendidikan dengan kehidupan kehidupan bukan hanya berkisar pada segi bahan atau isi pendidikan, tapi juga menyangkut kegiatan dan pengalaman belajar.

II. PRINSIP FLEKSIBILITAS
Prinsip Fleksibiliras artinya bahwa kurikulum itu harus lentur tidak kaku, terutama dalam hal pelaksanaannya. Pada dasarnya kurikulum didesain untuk mencapai suatu tujuan tertentu sesuai dengan jenis dan jenjang pendidikan tertentu. Akan tetapi, meskipun demikian dalam hal strategi, yang didalamnya tercakup metode atau teknik, kurikulum harus fleksibel. Dalam kurikulum, para pengembang kurikulum harus menyadari bahwa kurikulum harus mampu disesuaiakan dengan situasi dan kondisi setempat dan waktu yang selalu berkembang tanpa merombak tujuan pendidikan yang harus dicapai. Selain itu perlu disadari juga bahwa kurikulum dimaksudkan untuk mempersiapkan anak untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang , di sini dan di tempat lain, bagi anak yang memiliki lstsr brlsksng dan kemampuanyang berbeda.

III. PRINSIP KONTINUITAS
Prinsip kontinuitas artinya kurikulum itu dikembangkan secara berkesinambungan. Kesinambungan ini meliputi sinambung antar kelas maupun sinambung antar jenjang pendidikan. Hal ini dimaksudkan agar proses pendidikan atau belajar siswa bias maju secara sistematis, pendidikan pada kelas atau jenjang yang lebih rendah harus menjadi dasar dan dilanjutkan pada kelas dan jenjang di atasnya. Selain itu, kontinuitas disini dimaksudkan adalah saling jalin-menjalin antara berbagai tingkat dan jenis program pendidikan.
a) Kesinambungan antara berbagai tingkat sekolah
Dalam menyusun kurikulum sekolah, hendaknya dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut
1) Bahan-bahan pelajaran yang diperlukan untuk belajar lebih lanjut pada tingkat sekolah yang berikutnya hendaknya sudah diajarkan pada tingkat sekolah yang sebelumnya.
2) Bahan pelajaran yang sudah diajarkan pada tingkat sekolah yang lebih rendah tidak perlu diajarkan lagi pada sekolah yang lebih tinggi.
b) Kesinambungan antara berbagai bidang studi
Bahan yang diajarkan dalam berbagai bidang studi sering mempunyai hubungan satu sama lainnya. Sehubungan dengan hal itu urutan dalam penyajian berbagai bidang studi hendaknya diusahakan sedemikian rupa agar hubungan tersebut dapat terjalin dengan baik.
Sebagai contoh, untuk menghitung limit dan integral dibutuhkan keterampilan untuk mengolah suatu turunan. Untuk itu, pelajaran mengenai turunan dalam bidang matematika seharusnya di berikan sejak SMA.

IV. PRINSIP PRAKTIS ATAU EFISIENSI
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan aplikabilitasnya di lapangan. Kurikulum harus bisa diterapkan dalam praktek pendidikan sesuai dengan situasi dan kondoso tertentu. Oleh karena itu dalam proses pengembangan kurikulum, para pengembang kurikulum harus mampu memahami terlebih dahulu situasi dan kondisi tempat di mana kurikulum ini akan digunakan, meskipun gambaran situasi dan kondisi tempat itu tidak begitu detail. Pengetahuan akan tempat ini akan memandu pengembang kurikulum untuk mendisain kurikulum yang memenuhi prinsip praktis, memungkinkan untuk diterapkan.
Efisiensi dalam suatu usaha pada dasarnya merupakan perabandingan antara hasil yang dicapai (output) dan usaha yang telah dikeluarkan (input). Bila hasil yang kita capai nilainya Rp 100.000,- sedangkan usaha yang dikeluarkan Rp 120.000,- maka usaha kita tersebut tidak efisien.
Dalam dunia pendidikan, tentu saja sukar bagi kita untuk membandingkan nilai hasil dengan nilai usaha dengan cara seperti yang digambarkan di atas. Sekalipun demikian, dalam pengembangan kurikulum dan pendidikan pada umumnya, prinsip efisiensi ini perlu kita perhatikan, baik efisiensi dalam segi waktu, tenaga, peralatan, yang tentunya akan menghasilkan efisiensi dan segi biaya. Sehubungan dengan efisiensi waktu, misalnya perlu sekali direncanakan kegiatan belajar mengajar sedemikian rupa sehingga murid tidak banyak membuang waktu di sekolah dengan mengajar hal-hal yang bisa dikerjakan di luar sekolah dengan mencatat bahan-bahan yang ada di dalam buku pelajaran.
Sehubungan dengan efisiensi penggunaan tenaga dan peralatan perlu ditetapkan jumlah minimal murid yang harus dipenuhi oleh suatu sekolah dengan cara menentukan jumlah guru yang dibutuhkan. Dengan megusahakan tercapainya berbagai segi efisiensi di atas diharapkan akan dapat dicapai efisiensi dalam pembiayaan pendidikan.

V. PRINSIP EFEKTIFITAS
Prinsip ini merujuk pada pengertian bahwa kurikulum itu selalu berorientasi pada tujuan tertentu yang ingin dicapai. Kurikulum bisa dikatakan adalah instrumen untuk menacapai tujuan. Oleh karena itu, jenis dan karakteristik tujuan apa yang ingin dicapai harus jelas. Kejelasan tujuan akan mengarahkan dalam pemilihan dan penentuan isi, metode, dan sistem evaluasi, serta model konsep kurikulum apa yang ingin digunakan.
Selain itu efektifitas dapat diartikan apabila dalam suatu kegiatan berkenaan dengan sejauh mana apa yang direncanakan atau dapat diinginkan dapat terlaksana atau terwujud. Bila ada 10 jenis kegiatan yang kita rencanakan, dan tercapai hanya 4 kegiatan yang dapat terlaksana, maka efektivitas kegiatan kita belum memadai.
Di dalam bidang pendidikan, efektifitas ini dapat kita tinjau dari dua segi efektifitas mengajar guru, dan efektifitas belajar murid.
1. Efektifitas Mengajar guru
Efektifitas mengajar guru terutama mencakup sejauh mana jenis-jenis kegiatan belajar mengajar yang direncanakan dapat dilaksanakan dengan baik.
Dalam rangka pengembangan kurikulum, usaha untuk meningkatkan efektifitas mengajar guru perlu diperhatikan, misalnya melalui Workshop.
2. Efektifitas belajar murid.
Efektifitas belajar murid terutama menyangkut sejauh mana tujuan-tujuan pelajaran yang diinginkan telah dapat dicapai melalui kegiatan belajar mengajar yang dilkukan oleh siswa dan gurunya.
Dalam ranga pengembangan kurikulum, usaha untuk meningkatkan efektifitas kegiatan belajar murid dilakukan dengan memilih jenis-jenis metode (cara) dan alat yang dipandang di dalam mencapai tujuan yang diinginkan.

Setelah tadi kita membicarakan tentang Prinsip Umum pengembangan kurikulum, maka sekarang kita akan membahas tentang Prinsip Khusus dalam pengembangan kurikulum.
Sebagaimana yang telah di sebutkan di muka, bahwa prinsip khusus itu berkenaan dengan prinsip yang hanya berlaku di tempat tertentu dan situasi tertentu. Prinsip khusus ini juga merujuk pada prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengembangan komponen-komponen kurikulum secara khusus (tujuan, isi, metode, dan evaluasi ). Satu wilayah dengan wilayah lainnya, satu jenis dan jenjang pendidikan dengan jenis dan jenjang pendidikan yang lainnya memiliki karakteristik yang berbeda dalam beberapa aspek.
Perbedaan ini tentu bisa mengakibatkan adanya penggunaan prinsip-prinsip yang khas sesuai dengan situasi dan kondisi setempat dan karakteristik dan jenis dan jenjang pendidikan tersebut.
Ada beberapa prinsip yang lebih khusus dalam pengembangan kurikulum. Prinsip-prinsip ini berkenaan dengan penyusunan tujuan, isi, pengalaman belajar, dan penilaian.
1.Prinsip Berkenaan Dengan Tujuan Pendidikan
Tujuan menjadi pusat kegiatan dan arah semua kegiatan pendidikan. Perumusan komponen-komponen kurikulum hendaknya mengacu pada tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan mencakup tujuan yang bersifat umum atau berjangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek (tujuan khusus). Perumusan ini bersumber pada :
a) Ketentuan dan kebijaksanaan pemerintah, yang dapat ditemukan dalam dokumen-dokumen Negara mengenai strategi pendidikan nasional.
b) Survey mengenai presepsi orang tua/ masyarakat tentang kebutuhan mereka yang dikirimkan melalui angket atau wawancara dengan mereka.
c) Survey tentang pandangan para ahli dalam bidang-bidang tertentu, dihimpun melalui angket, wawancara, observasi, dan dari berbagai media massa.
d) Survey tentang man power.
e) Pengalaman Negara-negara lain yang sama.
f) Penelitian.
2.Prinsip Berkenaan Dengan Pemilihan Isi Pendidikan
Memilih isi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan yang telah ditentukan para perencana kurikulum perlu mempertimbangkan beberapa hal, di anataranya :
a) Perlu penjabaran tujuan pendidikan/ pengajaran ke dalam bentuk perbuatan hasil belajar yang khusus dan sederhana.
b) Isi bahan pelajaran harus meliputi segi pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
c) Unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan sistematis dan logis. Ketiga ranah belajar, yaitu pengetahuan, sikap, dan keterampilan diberikan secara stimulant dalam urutan situasi belajar. Untuk hal ini diperlukan buku pedoman guru yang memberikan penjelasan tentang organisasi bahan dan alat pengajaran secara lebih mendetail.

3.Prinsip Berkenaan Dengan Pemilihan Proses Belajar Mengajar
Pemilihan proses belajar mengajar yang di gunakan hendanknya memeperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a) Apakah metode yang digunakan cocok untuk mengajarkan bahan pelajaran?
b) Apakah metode tersebut memberikan kegiatan yang bervariasi sehingga dapat melayani perbedaan individual siswa?
c) Apakah metode tersebut memberikan urutan kegiatan yang bertingkat-tingkat?
d) Apakah metode tersebut dapat menciptakan kegiatan untuk mencapai tujuan kognitif, afektif, dan psikomotor?
e) Apakah metode tersebut lebih mengkatifkan siswa, atau mengaktifkan guru atau kedua-duanya?
f) Apakah metode itu mendorong berkembangnya kemampuan baru?
g) Untuk belajar keterampilan sangat dibutuhkan kegiatan belajar yang menekankan “learning by doing” di samping “ learning by seeing and knowing”

4.Prinsip Berkenaan Dengan Pemilihan Media dan Alat Pegajaran
Proses belajar mengajar yang baik perlu didukung oleh penggunaan media dan alat-alat bantu pengajaran yang tepat. Syarat-syaratnya adalah :
a) Alat/media pengajaran apa yang diperlukan. Apakah semuanya sudah tersedia? Bila alat tersebut tidak ada apa penggantinya?
b) Kalau ada alat yang harus dibuat, hendaknya memperhatikan : bagaimana pembuatannya, siapa yang membuat, pembiayaannya, waktu pembuatan?
c) Bagaimana mengorganisir alat dalam bahan pelajaran, apakah dalam bentuk modul, paket belajar dan lain-lain?
d) Bagaimana pengintegrasiannya dalam keseluruhan kegiatan belajar?
e) Hasil yang terbaik akan diperoleh dengan menggunakan multimedia.

5.Prinsip Berkenaan Dengan Pemilihan Kegiatan Peniliaian
Penilaian merupakan bagian integral dari pegajaran :
a) Dalam penyusunan alat penilaian (test) hendaknya diikuti langkah-langkah sebagai berikut :
Rumuskan tujuan-tujuan pendidikan yang umum, dalam ranah-ranah kognitif, afektif, dan psikimotor. Uraikan ke dalam bentuk tingkah-tingkah laku murid yang dapat diamati. Hubungkan dengan bahan pelajaran. Tuluskan butir-butir soal test.
b) Dalam merencanakan suatu penilaian hendaknya diperhatikan beberapa hal, sebagai berikut :
Bagaimana kelas, usia, dan tingkat kemampuan kelompok yang akan ditest?
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pelaksanaan test?
Apakah tes tersebut berbentuk uraian atau Objektif?
Berapa banyak butir teks yang harus disusun?

c) Dalam pengolahan suatu hasil penilaian hendaknya diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
Norma apa yang digunakan di dalam pengolahan hasil test?
Apakah digunakan formula quessing?
Bagaimana pengubahan skor ke dalam skor masak?
Skor standart apa yang digunakan?
Untuk apakah hasil-hasil test tersebut digunakan?

Dalam pengembangan kurikulum tentu akan dijumpai keunggulan dan keterbatasan kurikulum yang dikembangkan. Diantaranya:
a. Keunggulan
Terdapat beberapa keunggulan dari prngembangan kurikulum, antar lain (1) pengembangan kurikulum dilakukan berdasarkan analisa kebutuhan; (2) pengembangan kurikulum digali dari berbagai khalayak seperti peserta didik, dosen, pengelola, ahli, alumni, pengguna, dan pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders); (3) pengembangan kurikulum diawalidengan merumuskan terlebih dahulu (a) visi, misi, dan kontribusi, (b) tujuan: standar kompetensi lulusan, rumusan kompetensi, standar kompetensi dan kompetansi dasar, (c) merumuskan isi: subtansi kajian, penetapan nama mata kuliah/mata pelajaran, waktu, jumlah SKS, dan merumuskan silabus dan rencana pembelajaran, (d) merumuskan media/metode pembelajaran, dan (e) sistem efaluasi; (4) memungkinkan dikembangkannya mata kuliah atau mata pelajaran baru yang sebelumnya tidak ada dalam kurikulum. Perumusan bidang pengkajian membawa dampak pada kompetensi, ruang lingkup dan kedalaman materi dari suatu mata pelajaran yang dikembangkan; (5) silabus yang berisi informasi yang lengkap tentang suatu mata kuliah/pelajaran membawa dampak pada pembelajaran yang sistematik. Baik dosen/guru maupun peserta didik memiliki target-terget dan dapat mengembangkan kegiatan-kegiatan sesuai kompetensi yang diharapkan, pengalaman belajar yang dikembangkan melalui berbaga pendekatan/strategi/metode, sumber-sumber yang dapat dioptimalkan, serta evaluasi yang digunakan; dan (6) peserta didik harus memperoleh kejelasan gambaran tentang apa dan bagaimana pembelajaran akan dijalani agar mereka siap belajar. Kejelasan ini menjadi “kontak belajar” antara pendidik dan pesarta didik, sehingga dapat saling mengingatkan dan saling melengkapi.
b. Keterbatasan
Keterbatasan yang menjadi permasalahan dalan pengembangan kurikulum, antara lain (1) memerlukan cukup banyak waktu untuk menggali informasi dan merumuskan kompetensi yang diharapkan sesuai dengan kebutuhan para lulusan dan masyarakat pengguna (user); (2) penyusunan kurikulum memerlukan waktu yang luang, tenaga yang banyak, dan biaya yang besar; (3) kurikulum harus disusun dan kembangkan oleh sustu tim yang solid; dan (4) penyusunan silabus yang berisi gambaran lebih menyeluruh tantang materi pelajaran yang lebih menguras tenaga, kemampuan proposional pendidk yang memadai dan biaya yang mencukupi. Keterbatasa dalam menyusun kurikulum menggambarkan perlunya waktu yang cukup, tim yang solid, dan dukungan anggaran yang dialokasikan oleh sekolah dan pemerintahan daerah kabupaten/kota.
Pengembangan kurikulum memberi implikasi teoritis, berupa terumuskannya beberapa prisip dasar, yakni (1) pengembangan kurikulum yang ideal harus berdasarkan analisis kebutuhan; (2) analisis kebutuhan dilakukan dengan mengkaji kompetensi yang dibutuhkan atau cenderung dibutuhkan di lapangan; (3) pengembangan kurikulum akan efektif apabila dikembangkan dengan melibatkan berbagai unsur/khalayak yang kompeten; (4) kurikulum yang dikembangkan akan efektif bila didukung oleh komitmen bersama dari semua pihak; (5) kurikulum yang dikembangkan akan efektif apabila dilakukan perbaikan secara kontinu; dan (6) pengembangan kurikulum akan efektif apabila dilakukan melalui suatu prosedur pengembangan “research dan development”. Dengan demikian tampaklah dengan jelas bahwa dalam pengembangan kurikulum membutuhkan orang yang mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang cukup dalam penyusunan kurikulum. Untuk memperoleh orang yang demikian ini, strategi yang dikembangkan di sekolah adalah membentuk tim kurikulum di sekolah. Tim kurikulum ini sering berdiskusi dan pada saat tertentu mengundang nara sumber yang relefan dengan kurikulum.
Setelah draf pengembangan kurikulum disusun oleh tim kurikulum, tim kurikulum membahasnya dalam pleno lengkap sekolah. Hasil lengkap pleno inilah final kurikulum yang digunakan oleh sekolah. Pengembangan kurikulum ini juga memberikaan implikasi praktis terhadap para pembuat kebijakan. Pengelola lembaga, pendidik, peserta didik, alumni, pengguna, dan stakeholders, yaitu (1) agar kurikulum yang dikembangkan efektif, diperlukan workshop dalam hal merumuskan tujuan, isi, media/metode pembelajaran, dan sistem evaluasinya; (2) implementasi kurikulum akan efektif apabila para pendidiknya mendapatkan pelatihan tentang pembuatan silabus dan perencanaan pembelajaran yang efektif; (3) implementasi kurikulum akan efektif apabila para pendidiknya mendapat pelatihan tentang cara pemilihan dan penggunaan media dan metode pembelajaran yang tepat; (4) implementasi kurikulum akan efektif apabila kelengkapan sarana dan fasilitas pendukung dipenuhi kebutuhannya; (5) evaluasi pembelajaran akan berhasil baik apabila pendidik melakukannya bukan hanya pada hasil, tetepi juga pada proses belajar; dan (6) evaluasi yang dilakukan pendidik akan meningkatkan motivasi belajar peserta didik apabila hasil tugas dan hasil ujian dikembikan pendidik kepada mereka. Implikasi praktis ini mendorong kepemimpinan kepala sekolah meskipun disibukkan oleh rutinitas ketatalaksanaan, tetapi kepala sekolah harus betul-betul fokus pada pengembangan kurikulum.

Juni 1, 2010 - Posted by | makalah

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: